Latest Posts

May 17, 2009

Sepuluh Wasiat Hasan Al Banna



Imam Syahid Hasan Al-Banna merupakan seorang ulama Islam yang memiliki pengaruh besar di Abad ini. Gerakan dakwah Al-Ikhwanul Muslimin yang dipimpin beliau terbukti memberikan kontribusi besar bagi kebangkitan Umat Islam dari tidur mereka yang panjang. Sebagai qiyadah jamaah dakwah, Imam Hasan Al-Banna telah menjadikan gerakan dakwahnya sebagai sebuah organisasi yang dinamis dan aktif dalam melakukan perubahan di tengah-tengah umat di seluruh dunia. Karena fikrah ikhwaniyah yang dilontarkan Imam Syahid mudah diterima dan menjadi pegangan bagi para mujahid di medan dakwah.
Dalam mengarahkan para ikhwah untuk lebih giat berdakwah, Imam Syahid sering memberikan wejangan yang amat praktis dan mudah diamalkan. Di antaranya adalah yang dikenal sebagai 10 wasiat Hasan Al-Banna. Wejangan Imam Syahid yang sepuluh ini bersifat sederhana dan mudah dihafal. Layaknya seperti kiat-kiat aktifitas rutin harian yang setiap saat harus dihayati dan dilaksanakan oleh setiap anggota Jamaah Ikhwanul Muslimun.

10 Wasiat Imam Syahid adalah sebagai berikut ;
  1. Bangunlah segera untuk melaksanakan sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaanmu.
  2. Baca, telaah, dan dengarlah Al-Qur-an, berdzikirlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan janganlah engkau senang menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada faedahnya
  3. Bersungguh-sungguhlah untuk bisa dan berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih.
  4. Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang percakapan karena hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan.
  5. Jangan banyak tertawa, sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (berdzikir) adalah tenang dan tenteram.
  6. Jangan suka bergurau, karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh terus menerus.
  7. Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal itu akan mengganggu dan menyakiti.
  8. Jauhilah ghibah (menggunjing) atau menyakiti hati orang lain dalam bentuk apa pun dan janganlah berbicara kecuali yang baik.
  9. Berkenalanlah dengan saudaramu yang engkau temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan taawun (kerjasama).
  10. Kewajiban yang harus ditunaikan lebih banyak daripada waktu yang tersedia, maka tolonglah saudaramu untuk memanfaatkan waktunya dan apabila kalian mempunyai keperluan maka sederhanakan dan cepatlah diselesaikan.

Bagi para aktivis dakwah sepuluh wasiat bagaikan resep yang sangat manjur untuk mengobati penyakit yang terdapat dalam hati mereka. Hal ini telah teruji sepanjang perjalanan dakwah Ikhwan sejak dikumandangkan oleh Imam Syahid sampai ke masa kita sekarang ini. Wasiat Imam Syahid merupakan rangkuman pemahaman beliau terhadap kandungan Al-Qur-an dan Sunnah yang semestinya mendapat prioritas utama dalam pengamalannya…. Berikut ini penjelasan lebih lanjut dari perintah harian Imam Syahid Hasan Al-Banna.

Wasiat Pertama: Bangunlah segera untuk melaksanakan sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaanmu.
Wasiat ini mengandung perintah agar setiap Al-akh mendahulukan sholat lima waktu dari perkara lainnya. Karena sholat di awal waktu merupakan amal Islam yang paling utama sebagaimana dikemukakan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam ketika ditanya oleh seorang sahabat, “Apakah amal yang paling utama ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Sholat pada waktunya”. Wasiat ini juga mengharuskan jamaah ikhwan untuk selalu menanti waktu-waktu sholat. Akan lebih utama bila seorang akh itu selalu dalam keadaan berwudlu beberapa saat sebelum adzan berkumandang sehingga dia dengan segera dapat mendatangi masjid dan sholat berjamaah. Al-Akh tidak boleh memprioritaskan hal lain selain dari waktu sholat ini.

Wasiat Kedua: Baca, telaah, dan dengarlah Al-Qur-an berdzikirlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan janganlah engkau senang menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada faedahnya.
Setiap akh diwajibkan untuk selalu berinteraksi dengan Kitabullah Al-Qur-an. Mereka wajib membacanya di mana ada kesempatan. Di setiap pertemuan yang diselenggarakan ikhwah hendaknya dimulai dengan membaca Al-Qur-an. Selain itu ikhwah juga diminta untuk menelaah atau mentadabburkan isi Kitabullah sesering mungkin. Ini bisa dilakukan dengan membaca Kitab-kitab tafsir atau buku-buku Manhaj Islam yang menguraikan nilai-nilai Al-Qur-an. Bukankah Nabi mengatakan bahwa sebaik-baik ummat beliau adalah yang memperlajari dan mengajarkan Al-Qur-an. Imam Syahid juga mengingatkan agar waktu dimanfaatkan untuk berdzikir dalam segala keadaan. Surat-surat tertentu dan ayat-ayat pilihan biasa dapat dibaca dalam berbagai keadaan. Disamping itu ada bacaan-bacaan dzikir seperti tasbih, tahmid, takbir, tahlil, dan hauqallah yang sangat penting dilakukan dalam setiap keadaan ikhwah… Misalnya ketika berkendaraan, menunggu sesuatu, atau tengah diam… Ikhwah hendaknya tidak menyia-nyiakan waktu bagi hal-hal yang tidak bermanfaat karena di antara ciri orang-orang mukmin adalah “Alladzina hum anillaghwi mu’ridhuun” (Orang-orang yang menghindarkan diri dari perkataan atau perbuatan yang tidak ada manfaatnya.

Wasiat Ketiga: Bersungguh-sungguhlah untuk bisa dan berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih
Setiap akh diwajibkan belajar Bahasa Arab fushah (baku) dan mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. Beliau mewajibkan hal ini karena Bahasa Arab merupakan salah satu syiar dakwah Islam. Bahasa Arab itu bahasa Al-Qur-an dan bahasa Ahlul Jannah (Ahli Syurga). Di antara sumber kekuatan ummat Islam adalah persatuan mereka yang bersifat mendunia. Kunci persatuan adalah kemampuan berkomunikasi cepat, dengan bahasa yang merupakan warisan Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya. Sementara itu orang-orang di luar Islam berusaha sekuat tenaga menjauhkan Ummat Islam dari bahasa induk mereka. Mereka mempopulerkan bahasa Inggris dan menyatakan bahwa bahasa Arab itu terbelakang. Mereka bahkan ingin ummat Islam tak lagi mampu membaca Al-Quranul Karim atau memahami kandungan maknanya ketika membaca Al-Qur-an tersebut.

Wasiat Keempat: Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang percakapan karena hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan.
Imam Syahid mengingatkan para ikhwah untuk menjauhi perdebatan dan berdiskusi tentang hal-hal yang tak perlu. Ikhwah dianjurkan banyak bicara tetapi tentang hal-hal yang penting atau mendesak untuk dibicarakan… Perdebatan selamanya hanya melukai orang yang didebat karena setiap orang selalu berusaha mempertahankan pendapatnya kendati salah. Al-Qur-an sendiri mengingatkan kita dari bicara serampangan karena syaitan itu memecah belah manusia dari perkataan yang buruk. (S. Al-Isra: 53)

Wasiat Kelima: Jangan banyak tertawa, sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (berdzikir) adalah tenang dan tenteram.
Imam Syahid melarang para ikhwah banyak tertawa untuk memelihara dan menjaga kesucian hati mereka agar selalu berdzikir kepada Allah... Banyak tertawa bisa timbul karena ada yang membanyol, atau menceritakan sesuatu yang membuat orang-orang tertawa terbahak-bahak. Biasanya tidak jauh dari mengejek dan menghina orang lain baik secara langsung atau tidak. Karena itulah Al-Imam mengingatkan bahaya orang-orang yang banyak tertawa dan sedikit menangis.

Wasiat Keenam: Jangan suka bergurau, karena ummat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh-sungguh terus menerus.
Imam Syahid Hasan Al-Banna juga melarang para ikhwah banyak bercanda atau membanyol yang membuat orang lain tertawa baik dengan ucapan, cerita, atau tingkah laku yang lucu. Beliau menyatakan bahwa sikap pejuang Islam adalah bersungguh-sungguh atau serius sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur-an S. Al-Ankabuut ayat 69

Wasiat Ketujuh: Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal itu akan mengganggu dan menyakiti.
Imam Syahid Hasan Al-Banna mengingatkan para ikhwah agar memperhatikan adab berbicara di antaranya dengan merendahkan suara dari segi volume dan merendahkan hati dari segi isi pembicaraan. Islam memerintahkan ummatnya untuk memiliki kelembutan hati dan hal itu dimulai dari
kelembutan dalam berbicara atau berdialog.

Wasiat Kedelapan: Jauhilah ghibah (menggunjing) atau menyakiti hati orang lain dalam bentuk apa pun dan janganlah berbicara kecuali yang baik.
Dalam wasiat ini Imam Syahid mengingatkan agar para ikhwah tidak menggunjingkan orang lain. Bergunjing adalah membicarakan sesuatu tentang orang lain yang tidak disukai orang tersebut bila dia mendengar pernyataan itu. Bergunjing adalah larangan keras dalam berbicara. Oleh Al-Qur-an orang yang suka menggunjing disamakan dengan orang yang memakan daging saudaranya sendiri. ( Al-Hujaraat 12.)

Wasiat Kesembilan; Berkenalanlah dengan saudaramu yang engkau temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan taawun (kerjasama).
Imam Syahid menekankan bahwa prinsip dakwah Islam sejati adalah saling berkenalan. Pepatah mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Allah telah menciptakan manusia berjenis-jenis suku bangsa dan bahasanya, beraneka ragam latarbelakang hidupnya agar mereka saling kenal mengenal (Al Hujarat: 13). Untuk meraih hati orang lain pada langkah pertama adalah dengan memperkenalkan diri dan mengenal orang lain. Dengan perkenalan itu maka jembatan antara hati kita dengan hatinya sudah tersambung… Setelah itu potensi untuk saling tolong menolong dan bekerjasama akan terbuka.

Wasiat Kesepuluh : Kewajiban yang harus ditunaikan lebih banyak daripada waktu yang tersedia, maka tolonglah saudaramu untuk memanfaatkan waktunya dan apabila kalian mempunyai keperluan maka sederhanakan dan cepatlah diselesaikan.
Imam Syahid mengingatkan bahwa tugas para ikhwah yaitu agenda dakwah sangat banyak. Bahkan lebih banyak dari waktu yang tersedia. Umur dakwah ini lebih panjang dari umur para juru dakwah itu sendiri. Mereka tidak boleh menunda-nunda pekerjaan yang sudah ada di depan mata, disebabkan pekerjaan lain akan segera menyusul… Karenanya ikhwah harus bekerja sama untuk saling memudahkan pekerjaan mereka, sebagaimana sering dikemukakan Rasulullah saw., “Permudahlah dan jangan dipersulit”. Dalam gerakan dakwah kita harus saling melayani dan membantu mempermudah urusan saudara kita sehingga pekerjaan dakwah akan menjadi ringan dan menyenangkan.

Wallahu a’lam
read more...

May 15, 2009

Apa Saja untuk Rakyat

Apa Saja untuk Rakyat


“Anggota dewan, dokter gigi, supir, makelar rumah, agen KTP, dan tukang jilid proposal,” seru lelaki muda itu dengan mata menyipit karena tawa.

Aku ikut tertawa.

Di tangan lelaki itu bertumpuk proposal dari masyarakat konstituennya yang akan diajukannya. Belum ada proposal itu yang dijilid. Dia yang akan membawanya ke tukang foto kopi.

Sejak pagi dia berkeliling kecamatan, menemui calon proyek kebajikan. Berdiskusi, menemukan titik temu, mencari solusi, dan memberikan motivasi. Dia tidak mau hanya duduk di rumah, menunggu masyarakat mengajukan permintaan.

Hasilnya belasan rencana kerja pelayanan masyarakat. Tangannya memasukkan proposal itu ke dalam tas besarnya. Sepeda motor usang menunggu. Di bawah terik matahari, lelaki itu melaju membawa selaut harapan.

Rahmat Juliadi, anggota legislatif DPRD Sumedang, ke manapun dia datang, riang dan tawa menjadi warna harinya. Tidak ada masalah yang susah jika disampaikan kepadanya. Seberat apapun, dia memiliki cara meringankan beban.

Warga kesulitan mendapatkan KTP karena tidak memiliki surat pindah dari kedutaan besar luar negeri, telah berupaya ini dan itu tetapi kendala administrasi selalu menghalang. Rahmat lalu membawa formulir KTP itu ke Kepala Desa, menjelaskan masalah dan meminta saran pemecahannya. Dia bahkan menjadikan dirinya jaminan saat aparat desa khawatir warga yang bersangkutan bukan orang yang baik-baik.

Berkali-kali masyarakat membutuhkan mobil dan supir untuk membawa ibu hamil atau warga ke rumah sakit. Rahmat menyediakan waktu dan dirinya.

“Satu-satunya mobil yang berani kita pinjem dan hampir selalu ada, ya, mobil Pak Rahmat, teh,” kata ibu komplek.

Sepagi Sabtu itu, dia mengantarkan satu keluarga ke rumah sakit. Siang minggu dia menjemput salah seorang ibu dari rumah sakit Al-Islam sehabis melahirkan. Pada sore Sabtu yang lain, dia mengantarkan keluarga yang lain ke rumah sakit yang lain. Baru pekan lalu dia menawarkan diri dan mobilnya untuk mengantarkan seorang nenek warga Citali yang sakit parah ke RS Sumedang.

“Kata anak-anak, abi, mah, sibuk wae,” Amie, istri Rahmat, berujar sambil tersenyum.

Di tengah kesibukan yang berjibun, dia masih menyempatkan diri mencarikan informasi rumah kosong bagi yang membutuhkan. Karena dia anggota legislatif, orang berharap dia juga pusat informasi. Termasuk informasi rumah kosong dan calon penghuni rumah.

“Nggak ada masalah, lah, itu.” dia mengibaskan tangan, menolak anggapan bahwa dia telah meringankan kehidupan banyak orang.

karena dia dokter gigi, Rahmat teramat sering kedatangan warga yang sakit gigi dan minta dirawat. Walaupun tidak membuka praktek di rumahnya, dia melakukan pertolongan perawatan gigi darurat di sana.

“Baru dari pak dokter, nih,” kata Ummu Nizar sembari menggendong anaknya malam itu.

“Ada apa, ummi?”

“Nizar sakit gigi. Karena sudah malam, menelepon pak dokter saja. Sama pak dokter disuruh bawa ke rumah. Barusan pak dokter mencabut gigi dik Nizar.”

“Pak dokter, ada, ya?” pikiranku ingat dengan kesibukannya yang luar biasa.

“Nggak ada, sih, tadinya. Tapi pas ditelpon, pak dokter bilang akan pulang dan meminta kita menunggu jika saat datang beliau belum ada.”

Aku mengangguk-angguk. Berapa biaya perawatan supercepat dan personal ini?

“Gratis. Wah, pak dokter nggak mau dibayar. Malah dik Nizar yang dikasih hadiah.”

Ummu Nizar lalu menceritakan pengalamannya yang lain berobat gigi dengan pak dokter Rahmat.

“Beliau nggak pernah mau dibayar,” tekan Ummu Nizar bersemangat.

Hatiku terasa ringan. Ah, luar biasa.

Baru kemarin istri Rahmat cerita. Rahmat mengajari istrinya bahwa pekerjaan dewan bukan “pekerjaan”. Waktu di dewan adalah masa melayani masyarakat. Uang yang didapat dari dewan tidak dijadikan sumber kehidupan. Rahmat menjatah dana keluarga, dan Amie diminta mengaturnya supaya cukup. Mereka berdua sepakat uang yang didapat dari pekerjaan sebagai anggota legislatif dikembalikan kepada masyarakat dalam berbagai bentuk.

“Pak Rahmat nggak pernah tega mengambil uang dari masyarakat. Begitu banyak yang membutuhkannya,” terang Amie.

Rumah Rahmat memang dikenal masyarakat sebagai tempat mencari bantuan. Ada yang kehabisan uang di jalan, singgah, dan minta tolong. Banyak yang meminjam uang dan tidak mampu mengembalikannya. Ada yang memerlukan uang untuk membayar sekolah. dari berbagai daerah, orang menemukan dirinya di depan pintu Rahmat.

“Pokoknya, mah, jika ada yang minta-minta bantuan, kita suruh ke rumah pak Rahmat saja,” cetus seorang kader PKS.

Rumah Rahmat banyak pengunjung.

“Bagi kita, Mun, posisi aleg bukan untuk cari maisyah (penghasilan). Sedapat mungkin uang dari dewan bukan untuk kepentingan keluarga. Pak Rahmat memberikan uang belanja kepada saya. Plus gaji saya. Alhamdulillah berlebih.” Binar mata Amie seperti bintang.

Mata saya berembun.

Sepeda motor itu… sudah sedemikian tua dan jelek… apalagi untuk seorang aleg yang dokter gigi.
(Muthmainnah)

read more...

Mobil Milik Siapa?




Hari itu di kantor DPD PKS Kota Yogyakarta. Kami baru saja shalat Isya. Beberapa rekan kemudian beristirahat, sedangkan yang lainnya melanjutkan tugas, menyalurkan bantuan untuk korban gempa di Bantul.

Sebulan setelah gempa, kondisi mulai membaik, tetapi masih banyak yang harus dilakukan. Semua kader dan simpatisan PKS Kota Yogyakarta yang tidak tertimpa musibah, wajib bergerak ke Bantul dan membantu proses recovery warga. Praktis, kami beristirahat sekenanya. Bahkan, kadang harus mencuri-curi waktu seperti selepas shalat malam itu.

Saya hendak ikut berbaring di atas tikar bersama teman-teman, tetapi melihat Ustadz Dwi Budi masih duduk-duduk di mushala. Akhirnya, saya mengurungkan niat untuk istirahat dan memutuskan untuk mengobrol bersama beliau. Namun, sepertinya kondisi ustadz tidak fit. Beliau tidak fokus pada obrolan kami. Ada sesuatu yang mengganggu. Saya mengira, ada masalah dengan penyaluran bantuan di Bantul.

“Nggak, nggak apa-apa, kok. Semua lancar,” jawab Ustadz Dwi Budi saat saya tanya.

Saya mengangguk dan kami kembali bercakap-cakap. Tapi lagi, ustadz sepertinya terganggu dengan sesuatu. Akhirnya, saya bertanya lagi, kali ini menanyakan apakah ada keluarga beliau yang sakit.

Kembali beliau menjawab tidak. Istri dan Aisyah, putri beliau, sehat.

Saya mengagguk lagi. Kali ini, kami saling berdiam diri. Saya bingung harus berkata apa, sedangkan Ustadz Dwi Budi sepertinya enggan berkata-kata. Akhirnya, beliau yang memecah keheningan dengan balik bertanya kepada saya “Apa Yoga pernah tahu kalau saya memakai mobil sedan itu untuk mengantar anak?”

Saya bengong, tidak terlalu nyambung dengan pertanyaan beliau. Ustadz pun menunjuk pada mobil yang parkir di jalan depan kantor DPD.

Saya menggeleng. “Memang kenapa, Ustadz?”

“Nggak…” Beliau kembali terdiam, tetapi kali ini tidak lama. “Tadi ada tetangga yang silaturahim ke rumah. Beliau bercerita kalau ada temannya yang mengatakan bahwa saya ini sering memakai mobil sedan itu untuk keperluan keluarga. Untuk antar anak. Nggak Cuma sekalu-dua kali, tapi sering…” Beliau terdiam lagi. Raut wajahnya terlihat keruh, “Padahal seingat saya, kok, saya tidak pernah, ya, pakai mobil sedan itu untuk keperluan keluarga…”

Saya ikut terdiam dan berpikir keras. Kapan, ya, saya pernah melihat ustadz memakai mobil untuk mengantar anak? Setelah lama berpikir dan tidak menemukan jawaban, saya akhirnya bertanya lagi.

“Lha, temannya tetangga itu melihat Ustadz mengantar Aisyah ke mana?”

Ustadz Dwi Budi terdiam lama, semakin termangu mendengar pertanyyan saya. Beliau kemudian mengeluarkan telepon genggam. Dari percakapan yang kemudian terjadi, saya menangkap beliau menghubungi sang bapak tetangga dan menanakan secara rinci cerita temannya.

Saat Ustadz terdiam dan mendengarkan dengan serius. Tiba-tiba, beliau tertawa.beliau bercakap-cakap beberapa saat dengan sang tetangga sebelum akhirnya menutup telepon dan menatap saya.

Seulas senyum tersungging di bibir.

“Alhamdulillah, masalahnya selesai.” Beliau kemudian menjelasakan. “Ternyata, teman tetangga saya melihat mobil sedan itu di sebuah SD. Mengantar anak yang sekolah di sana, katanya. Nggak mungkin yang pakai saya, wong Aisyah blm sekolah. paling mobil itu sedang dipinjam orang lain.” Beliau tertawa kecil. “Sudah, masalah sudah selesai. Sekarang, bisa tidur. Ayo, istirahat dulu. Nanti kerja lagi.”

Beliau lalu membaringkan diri di lantai mushala. Sesaat kemudian, beliau sudah tertidur dengan seulas senyum masih tersungging di bibir.

Tentu, Anda heran dengan kebingungan Ustadz Dwi Budi atas masalah sepele ini. Mobil sedan untuk mengantar anak seharusnya bukan persoalan besar. Namun, bagi Ustadz Dwi Budi, ini menjadi masalah serius.

Dwi Budi Utomo adalah Wakil ketua DPRD Kota Yogyakarta dari PKS. Mobil sedan yang ia maksud adalah mobil dinas Wakil Ketua DPRD Yogyakarta. Saat menerima mobil dinas itu, Ustadz Dwi Budi berjanji pada dirinya sendiri untuk memakai mobil itu hanya untuk urusan-urusan dinas.

Beliau tidak akan pernah memakai mobil itu untuk masalah-masalah pribadi, terlebih untuk “sekedar” mengantar anak. Kalau tidak sedang digunakan untuk keperluan dinas, mobil itu bebas dipinjam oleh rekan-rekan atau tetangga-tetangga yang membutuhkan. Untuk urusan pribadi, beliau selalu memakai kendaraan pribadi, sebuah sepeda motor tua keluaran tahun 1990-an.

Prinsip itu beliau pegang teguh sampai sekarang. Bahkan, mobil yang sama pernah bertualang sampai ke luar pulau karena dipinjam warga yang membutuhkan. Beliau yang memilih untuk mengalah, pergi ke kantor naik kendaraan lain. Saat saya bertanya mengapa beliau mengizinkan mobil ini dibawa ke luar pulau, Ustadz Swi Budi tersenyum dan balik bertanya, “Lha, memang mobil itu milik siapa? Kan, bukan milik keluarga saya…”
(W.D. Yoga)
Diposkan oleh Islamic Parenting di 17:06 1 komentar
Label: 2. Melayani Umat, Bukan di Republik Mimpi
read more...

May 09, 2009

Kedokteran Islam Pernah berjaya, ini kisahnya....


Ilmu kedokteran tak lahir dalam waktu semalam,'' ujar Dr Ezzat Abouleish MD dalam tulisannya berjudul Contributions of Islam to Medicine. Studi kedokteran yang berkembang pesat di era modern ini merupakan puncak dari usaha jutaan manusia, baik yang dikenal maupun tidak, sejak ribuan tahun silam.

Saking pentingnya, ilmu kedokteran selalu diwariskan dari generasi ke generasi dan bangsa ke bangsa. Cikal bakal ilmu medis sudah ada sejak dahulu kala. Sejumlah peradaban kuno, seperti Mesir, Yunani, Roma, Persia, India, serta Cina sudah mulai mengembangkan dasar-dasar ilmu kedokteran dengan cara sederhana.

Ibnu Sina @ mualaf.comOrang Yunani Kuno mempercayai Asclepius sebagai dewa kesehatan. Pada era ini, menurut penulis Canterbury Tales, Geoffrey Chaucer, di Yunani telah muncul beberapa dokter atau tabib terkemuka. Tokoh Yunani yang banyak berkontribusIbnu Sina @ mualaf.comi mengembangkan ilmu kedokteran adalah Hippocrates atau `Ypocras' (5-4 SM). Dia adalah tabib Yunani yang menulis dasar-dasar pengobatan.

Selain itu, ada juga nama Rufus of Ephesus (1 M) di Asia Minor. Ia adalah dokter yang berhasil menyusun lebih dari 60 risalat ilmu kedokteran Yunani. Dunia juga mengenal Dioscorides. Dia adalah penulis risalat pokok-pokok kedokteran yang menjadi dasar pembentukan farmasi selama beberapa abad. Dokter asal Yunani lainnya yang paling berpengaruh adalah Galen (2 M).

Ketika era kegelapan mencengkram Barat pada abad pertengahan, perkembangan ilmu kedokteran diambil alih dunia Islam yang tengah berkembang pesat di Timur Tengah. Menurut Ezzat Abouleish, seperti halnya lmu-ilmu yang lain, perkembangan kedokteran Islam melalui tiga periode pasang-surut.

Periode pertama dimulai dengan gerakan penerjemahan literatur kedokteran dari Yunani dan bahasa lainnya ke dalam bahasa Arab yang berlangsung pada abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Pada masa ini, sarjana dari Syiria dan Persia secara gemilang dan jujur menerjemahkan litelatur dari Yunani dan Syiria kedalam bahasa Arab.

Buah pikiran para tabib di era Yunani Kuno secara gencar dialihbahasakan. Adalah Khalifah Al-Ma'mun dari Diansti Abbasiyah yang mendorong para sarjana untuk berlomba-lomba menerjemahkan literatur penting ke dalam bahasa Arab. Khalifah pun menawarkan bayaran yang sangat tinggi, berupa emas, bagi para sarjana yang bersedia untuk menerjemahkan karya-karya kuno.

Sejumlah sarjana terkemuka ikut ambil bagian dalam proses transfer pengetahuan itu. Tercatat sejumlah tokoh seperti, Jurjis Ibn-Bakhtisliu, Yuhanna Ibn Masawaya, serta Hunain Ibn Ishak ikut menerjemahkan literatur kuno. Selain melibatkan sarjana-sarjana Islam, tak sedikit pula dari para penerjemahan itu yang beragama Kristen. Mereka diperlakukan secara terhormat oleh penguasa Muslim.

Proses transfer ilmu kedokteran yang berlangsung pada abad ke-7 dan ke-8 M membuahkan hasil. Pada abad ke-9 M hingga ke-13 M, dunia kedokteran Islam berkembang begitu pesat. Sejumlah RS (RS) besar berdiri. Pada masa kejayaan Islam, RS tak hanya berfungsi sebagai tempat perawatan dan pengobatan para pasien, namun juga menjadi tempat menimba ilmu para dokter baru.

Tak heran, bila penelitian dan pengembangan yang begitu gencar telah menghasilkan ilmu medis baru. Era kejayaan peradaban Islam ini telah melahirkan sejumlah dokter terkemuka dan berpengaruh di dunia kedokteran, hingga sekarang. `'Islam banyak memberi kontribusi pada pengembangan ilmu kedokteran,'' papar Ezzat Abouleish.

Sekolah kedokteran pertama yang dibangun umat Islam sekolah Jindi Shapur. Khalifah Al-Mansur dari Dinasti Abbasiyah yang mendirikan kota Baghdad mengangkat Judis Ibn Bahtishu sebagai dekan sekolah kedokteran itu. Pendidikan kedokteran yang diajarkan di Jindi Shapur sangat serius dan sistematik. Era kejayaan Islam telah melahirkan sejumlah tokoh kedokteran terkemuka, seperti Al-Razi, Al-Zahrawi, Ibnu-Sina, Ibnu-Rushd, Ibn-Al-Nafis, dan Ibn- Maimon.

Al-Razi (841-926 M) dikenal di Barat dengan nama Razes. Pemilik nama lengkap Abu-Bakr Mohammaed Ibn-Zakaria Al-Razi itu adalah dokter istana Pangerang Abu Saleh Al-Mansur, penguasa Khorosan. Ia lalu pindah ke Baghdad dan menjadi dokter kepala di RS Baghdad dan dokter pribadi khalifah. Salah satu buku kedokteran yang dihasilkannya berjudul 'Al-Mansuri' (Liber Al-Mansofis).

Ia menyoroti tiga aspek penting dalam kedokteran, antara lain; kesehatan publik, pengobatan preventif, dan perawatan penyakit khusus. Bukunya yang lain berjudul 'Al-Murshid'. Dalam buku itu, Al-Razi mengupas tentang pengobatan berbagai penyakit. Buku lainnya adalah 'Al-Hawi'. Buku yang terdiri dari 22 volume itu menjadi salah satu rujukan sekolah kedokteran di Paris. Dia juga menulis tentang pengobatan cacar air.

Tokoh kedokteran lainnya adalah Al-Zahrawi (930-1013 M) atau dikenal di Barat Abulcasis. Dia adalah ahli bedah terkemuka di Arab. Al-Zahrawi menempuh pendidikan di Universitas Cordoba. Dia menjadi dokter istana pada masa Khalifah Abdel Rahman III. Sebagain besar hidupnya didedikasikan untuk menulis buku-buku kedokteran dan khususnya masalah bedah.

Salah satu dari empat buku kedokteran yang ditulisnya berjudul, 'Al-Tastif Liman Ajiz'an Al-Ta'lif' - ensiklopedia ilmu bedah terbaik pada abad pertengahan. Buku itu digunakan di Eropa hingga abad ke-17. Al-Zahrawi menerapkan cautery untuk mengendalikan pendarahan. Dia juga menggunakan alkohol dan lilin untuk mengentikan pendarahan dari tengkorak selama membedah tengkorak. Al-Zahrawi juga menulis buku tentang tentang operasi gigi.

Dokter Muslim yang juga sangat termasyhur adalah Ibnu Sina atau Avicenna (980-1037 M). Salah satu kitab kedokteran fenomela yang berhasil ditulisnya adalah Al-Qanon fi Al- Tibb atau Canon of Medicine. Kitab itu menjadi semacam ensiklopedia kesehatan dan kedokteran yang berisi satu juta kata. Hingga abad ke-17, kitab itu masih menjadi referensi sekolah kedokteran di Eropa.

Tokoh kedokteran era keemasan Islam adalah Ibnu Rusdy atau Averroes (1126-1198 M). Dokter kelahiran Granada, Spanyol itu sangat dikagumi sarjana di di Eropa. Kontribusinya dalam dunia kedokteran tercantum dalam karyanya berjudul 'Al- Kulliyat fi Al-Tibb' (Colliyet). Buku itu berisi ramngkuman ilmu kedokteran. Buku kedokteran lainnya berjudul 'Al-Taisir' mengupas praktik-praktik kedokteran.

Nama dokter Muslim lainnya yang termasyhur adalah Ibnu El-Nafis (1208 - 1288 M). Ia terlahir di awal era meredupnya perkembangan kedokteran Islam. Ibnu El-Nafis sempat menjadi kepala RS Al-Mansuri di Kairo. Sejumlah buku kedokteran ditulisnya, salahsatunya yang tekenal adalah 'Mujaz Al-Qanun'. Buku itu berisi kritik dan penmbahan atas kitab yang ditulis Ibnu Sina.

Beberapa nama dokter Muslim terkemuka yang juga mengembangkan ilmu kedokteran antara lain; Ibnu Wafid Al-Lakhm, seorang dokter yang terkemuka di Spanyol; Ibnu Tufails tabib yang hidup sekitar tahun 1100-1185 M; dan Al-Ghafiqi, seorang tabib yang mengoleksi tumbuh-tumbuhan dari Spanyol dan Afrika.

Setelah abad ke-13 M, ilmu kedokteran yang dikembangkan sarjana-sarjana Islam mengalami masa stagnasi. Perlahan kemudian surut dan mengalami kemunduran, seiring runtuhnya era kejayaan Islam di abad pertengahan.

Rekam Medis, Warisan RS Al-Nuri

Pada era keemasan Islam, ibu kota pemerintahan selalu berubah dari dinasti ke dinasti. Di setiap ibu kota pemerintahan, pastilah berdiri rumah sakit besar. Selain berfungsi sebagai tempat merawat orang-orang yang sakit (RS), rumah sakit juga menjadi tempat bagi para dokter Muslim mengembangkan ilmu medisnya. Konsep yang dikembangkan umat Islam pada era keemasan itu hinga kini juga masih banyak memberikan pengaruh.

RS terkemuka pertama yang dibangun umat Islam berada di Damaskus pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid dari Dinasti Umayyah pada 706 M. Namun, rumah sakit terpenting yang berada di pusat kekuasaan Dinasti Umayyah itu bernama Al-Nuri. Rumah sakit itu berdiri pada 1156 M, setelah era kepemimpinan Khalifah Nur Al-Din Zinki pada 1156 M.

Pada masa itu, RS Al-Nuri sudah menerapkan rekam medis (medical record). Inilah RS pertama dalam sejarah yang menggunakan rekam medis. Sekolah kedokteran Al-Nuri juga telah meluluskan sederet dokter terkemuka, salah satunya adalah Ibn Al-Nafis - ilmuwan yang menemukan sirkulasi paru-paru. RS ini melayani masyarakat selama tujuh abad, dan bagiannya hingga kini masih ada.

RS penting lainnya yang dibangun umat Islam berada di Baghdad. Ketika Khalifah Harun Al-Rashid berkuasa, dia memerintahkan cucu Ibn-Bahtishu, yang juga dokter istana bernama Jibril untuk membangun RS Baghdad. RS ini berkembang menjadi sebuah pusat kesehatan yang amat penting. Salah satu pemimpinnya adalah Al-Razi, ahli penyakit dalam termasyhur.

RS terkemuka lainnya di Baghdad adalah Al-Adudi yang dibangun pada 981 M, setelah Khalifah Adud Al-Dawlah. Bangunan RS merupakan paling megah di Baghdad sebelum era modern. RS tersebut dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan yang paling lengkap dan terkemuka pada masanya. RS itu hancur lebur ketika bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan menyerang Baghdad pada 1258 M.

Ilmu kedokteran Islam juga berkembang di Mesir. Pada 872 M, Ahmed Ibn-Tulun membangun RS Al-Fusta di kota Al-Fustat, sekarang Kairo. Pada 1284 M, Khalifah Al-Mansur Qalawun juga membangun RS terkemuka bernama Al-Mansuri. Di Tunisia, pada 830 M, Pangeran Ziyadad Allah I membangun RS Al-Qayrawan di wilayah kota Al-Dimnah. RS ini sudah menerapkan pemisahan antara ruang tunggu pengunjung dan pasien.

Di Marokko, pada 1190 M, Khalifah Al-Mansur Ya'qub IbnuYusuf, membangun RS Marakesh. Itu adalah RS terbesar da terindah karena dihiasi taman yang penuh dengan bunga dan pohon buah-buahan. Ilmu medis juga berkembang pesat di Spanyol. Pada 1366 M, Pangeran Muhammed Ibn-Yusuf Ibn Nasr, membangun RS Granada di kota Granada.

Kontribusi Dokter Muslim

Bakteriologi
Ilmu yang mempelajari kehidupan dan klasifikasi bakteri. Dokter Muslim yang banyak memberi perhatian pada bidang ini adalah Al-Razi serta Ibnu Sina.

Anesthesia
Suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Ibnu Sina tokoh yang memulai mengulirkan ide menggunakan anestesi oral. Ia mengakui opium sebagai peredam rasa sakit yang sangat manjur.

Surgery
Bedah atau pembedahan adalah adalah spesialisasi dalam kedokteran yang mengobati penyakit atau luka dengan operasi manual dan instrumen. Dokter Islam yang berperan dalam bedah adalah Al-Razi dan Abu al-Qasim Khalaf Ibn Abbas Al-Zahrawi.

Ophthamology
Cabang kedokteran yang berhubungan dengan penyakit dan bedah syaraf mata, otak serta pendengaran. Dokter Muslim yang banyak memberi kontribusi pada Ophtamology adalah lbnu Al-Haytham (965-1039 M). Selain itu, Ammar bin Ali dari Mosul juga ikut mencurahkan kontribusinya. Jasa mereka masih terasa hingga abad 19 M.

Psikoterapi
Serangkaian metode berdasarkan ilmu-ilmu psikologi yang digunakan untuk mengatasi gangguan kejiwaan atau mental seseorang. Dokter Muslim yang menerapkan psikoterapi adalah Al-Razi serta Ibnu Sina. (heri ruslan )

@wikipedia : http://en.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Sina
read more...